Disclaimer : Perkuliahan diklat Profesi ini dilakukan secara online yang tentunya menyesuaikan perkuliahan online pada umumnya. Tentunya, sistem perkuliahan akan berbeda jika dilakukan secara offline. Kalau perkuliahan offline sih katanya katingku bisa benar-benar AMAZING. Berangkat pagi jam 8 pulang gak tahu jam berapa karena masih mengerjakan tugas-tugas perkuliahan. Yah, sama seperti perkuliahan secara offline lah atmosfernya di UI. Coba tanya saja sama alumni UI deh kalau kepo perkuliahan offline nya gimana hehe
Selamat membaca curhatan anak profesi full online :(((
Halo
semuanya, akhirnya aku datang dengan pengalaman yang baru baru banget bagi ku yakni pengalaman mengikuti
diklat fisikawan medik. Masih ingatkan dulu cerita pengalaman aku mengikuti tes
dilklatnya??
Dan sekarang tepat setahun waktu berlalu Time flies so fast. Sudah setahun berlalu, aku menuliskan
tulisan di blogku mengenai pengalamanku mengikuti tes diklat profesi Fisikawan
Medik batch IV dan batch
V.
Minggu ketiga Januari aku berangkat ke Jakarta karena
dijadwalkan tanggal 27 Januari 2020 harus mengikuti kuliah shit in matrikulasi.
Ternyata tidak
seperti itu jalannya.
Ketika pengumuman nama peserta yang lolos tes masuk, namaku
berada pada tabel mahasiswa yang hanya mengikuti diklat profesi saja, tidak
perlu mengikuti matrikulasi.
Sedikit penjelasan saja, kuliah matrikulasi diperuntukkan
bagi mahasiswa yang berasal dari kampus non anggota AIPFMI (Aliansi Institusi
Pendidikan Fisika Medis Indonesia).
Jadi, mereka
harus mengikuti kuliah matrikulasi di kelas selama 1 semester atau kurang lebih
selama 6 bulan, sebelum mengikuti kuliah diklat profesi Fisikawan Medik
Dikarenakan angkatanku (batch VI) tidak perlu ikut
matrikulasi. Kami disyarakatkan untuk
mengikuti ujian pra-diklat terlebih dahulu, untuk mengukur lagi keilmuan dasar
kami mengenai materi fisika medis.
Materi yang diujikan ;
1. 1. Radiologi & Dosimetri
2. Radiobiologi & Radioterapi,
3. 3. Radiologi Diagnostik & Intervensional, dan
4. 4. Kedokteran Nuklir.
Rencana awalnya setelah kami semua telah dinyatakan lulus dalam ujian pra diklat, setelah itu, baru kami bisa
mengikuti kuliah diklat profesi di kelas
yang dijadwalkan pada awal-akhir bulan April. Lalu, ujian modul di awal
bulan Mei.
Akan tetapi, pandemi Covid-19 membuat skenarionya berubah.
Kami baru bisa menyelesaikan ujian pra-diklat hingga materi kedua. Jum’at Sore
tanggal 13 Maret 2020, telah keluar keputusan Rektor Universitas Indonesia (UI)
agar mahasiswa kembali ke rumah masing-masing.
Berhubung pelatihan diklat profesi FISMED ini di bawah
naungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI, maka selurus
mahasiswa profesi FISMED juga harus mengikuti surat keputusan tersebut.
Kebetulan ada tiga angkatan/ batch yang tengah mengikuti
kuliah profesi FISMED di UI, yaitu angkatan batch V, VI dan matrikulasi (yang
kelak akan menjadi angkatan ketujuh profesi FISMED UI).
Akhirnya aku bergegas menuju kota kelahiranku, pada tanggal 16 maret 2020. Sedih ya, belum juga masuk perkuliahannya, sudah disuruh pulang saja. Ya sudahlah, mau gimana lagi kalau begitu jalannya.
Pertengahan bulan Maret hingga akhir pertengahan bulan Juli,
kami belum mendapat kabar dari pihak kampus UI mengenai kelanjutan dari kuliah
diklat profesi kami.
Akhirnya, minggu ketiga pada bulan Juli kami mendapat kabar
bahwa kuliah diklat profesi FISMED batch VI dilakukan secara daring atau online. Dan akan dilaksanakan pada
minggu ketiga bulan Agustus hingga akhir bulan September.
Batch VI awalnya diperkirakan akan selesai mengikuti segala
kuliah FISMED hingga bisa mengikuti sumpah profesi, maksimal bulan September
atau paling lambat Oktober tahun 2020.
Yah, pandemi mengubah segala skenario yang ada. Mau
bagaimana lagi kalau toh akhirnya batch VI barus bisa mengikuti kuliah diklat
profesi FISMED pada bulan Agustus 2020.
Perkuliahan diklat profesi FISMED dilaksanakan secara
daring/ online menggunakan platform
Googleclassroom setiap hari Senin-Jum’at, pukul 09.00 -11.00 , istirahat hingga
pukul 13.00.
Lalu dilanjut kembali hingga pukul 17.00. Atau ada beberapa
juga yang melebihi pukul 17.00 karena belum selesai menjelaskan materi modul
kuliah.
Tak jarang kuliah dibarengi dengan gema suara adzan yang
terdengar dari speaker peserta. Atau terkadang juga terdengar suara abang-abang
jualan di sekitar rumah peserta, mungkin lupa mematikan mic, sehingga suara
tersebut bisa terdengar ketika kuliah, hehe. Kuliah online memang sesuatu, hehe.
Atau kadang juga ada beberapa dosen pengajar yang meminta
kuliah pengganti dikarenakan berhalangan untuk mengajar di waktu yang telah
ditentukan.
Mengingat, memang dosen pengajar kuliah diklat profesi
FISMED ini banyak yang berasal dari praktisi Rumah Sakit atau Instansi lain misal BAPETEN.
Jadi, kiranya bisa saja mungkin ada penanganan darurat yang
harus dilakukan pas bertepatan dengan waktu mengajar. Apalagi yang berprofesi
sebagai Fisikawan Medis di Rumah Sakit, pada waktu tengah mengajar juga pernah
ada penangan mendadak pasien, jadi
kuliah pun haru dijeda sebentar.
Kuliah pengganti ada yang dijadwalkan pada weekend, atau
malam hari pukul 19.00-21.00. Oh ya, setiap materi kuliah dijadwalkan sebanyak
2 jam pada setiap sesinya.
Fyi, semua perkuliahan dijadwalkan pada zona waktu WIB. Tapi
teman-teman saya ada yang berasal dari zona waktu WITA, dan WIT.
Jadi, saya cukup kasihan kepada teman-teman saya. Karena ada
beberapa pengganti kuliah hingga pukul 21.30 WIB, jadi di bagian zona waktu WIT
mereka sudah pukul 23.30 WIT, Humm.
Kuliah diklat profesi FISMED batch VI juga dilaksanakan
bersamaan dengan Kerja Praktik (KP) mahasiswa S2 FISMED UI. Jadi, suasana kelas
cukuplah ramai dengan jumlah total mahasiswa yang mengikuti kegiatan
perkuliahan sebanyak kurang lebih 44 peserta.
Materi perkuliahan dikelompokkan menjadi enam buah modul.
Setiap modul memiliki beberapa macam materi dengan lingkup berbeda. Apa ya?
Kalau bahasaku sih, setiap modul memiliki beberapa anak sendiri hihi.
Misal nih modul tentang proteksi radiasi, maka “anak” dari
modul ini seperti desain shielding/ perisai. Nah, kita tahu sendiri ada 3 jenis
cabang ilmu di Fisika Medis yaitu Radiodiagnostik, Radioterapi, dan Kedokteran
Nuklir.
Ketiga ruangan tersebut tentunya memiliki desain ruangan
yang berbeda. Dan juga perhitungan desain shielding dari masing-masing ruangan
ini juga berbeda.
Berikut penjelasan singkat dari keenam modul kuliah diklat
profesi FISMED di UI.
1. Modul 1 ; Etika Medik dan Profesi
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 83 Tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Fisika Medik pada pasal 1 ayat 3
dijelaskan bahwa,
Fisikawan Medik adalah
tenaga kesehatan yang diberi tugas,
wewenang, dan tanggung jawab oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan
kegiatan fisika medik pada rumah sakit, dan fasilitas kesehatan lain.
Dari uraian
di atas dapat disimpulkan bahwa seorang Fisikawan Medis termasuk dalam
kategori tenaga kesehatan. Setiap tenaga kesehagan atau ilmu yang berkaitan
dengan makhluk hidup memiliki etika profesi masing- masing.
Profesi Fisikawan Medis pun juga demikian. Ada AFISMI sebagai organisasi keprofesian yang menaungi para Fisikawan Medis di Indonesia.
AFISMI juga mengatur perihal kode etik profesi
bagi para Fisikawan Medis ini.
Pada modul satu ini, materi yang diajarkan lebih banyak
mengenai bagaimana kiranya etika keprofesian kelak ketika menjadi seorang
Fisikawan Medis. Baik itu tentang peraturan perundang-undangan yang ada di
Indonesia atau satu hal yang umum di
dunia medis yaitu Deklarasi Helsinki (Kepo? Cek google buat bantu menjawab
hihi).
Dengan mempelajari modul satu ini diharapkan para peserta
kuliah paham betul bagaimana sikap atau etika yang harus dimilki oleh seorang
Fisikawan Medis, agar jangan sampai atau menghindari agar tidak melanggar kode
etik keprofesian yang ada.
2. Modul 2 ; Proteksi Radiasi
Masih ingat dengan tiga konsep proteksi radiasi? Wah
kiranya, semuanya sudah paham di luar kepala nih pasti dengan ketiga konsep
ini.
Pada waktu kuliah, aku dikenalkan dengan konsep akronim yang
unik dan lucu, PEJABAT.
-PEnahan/ perisai ; kita harus menggunakan penahan/ perisai/ shielding untuk mengurangi atau memblok jalannya paparan radiasi yang tidak diinginkan. Misalnya dalam hal ini adalah pekerja radiasi yang seharusnya tidak menerima paparan radiasi medis yang berlebih, oleh karenanya untuk memblok atau menghindari mendapatkan paparan radiasi berlebih tersebut digunakannya penahan bagi para pekerja yang bertugas. Penahannya apa saja? Banyak dong, silahkan cari ulasannya di internet jika kepo apa saja penahan yang harus digunakan oleh Fisikawan Medis , hehe.
-JArak ; Diusahakan untuk memaksimalkan jarak atau berada
sejauh mungkin dari sumber radiasi jika dimungkinkan.Tapi
semuanya juga memperhitungkan faktor indikasi medis yang dihasilkan. Karena
kita mengetahui, ketika kita semakin dekat dengan sumber radiasi, maka paparan
radiasi yang kita terima juga semakin besar.
-BATasi Waktu ;
Radiasi itu berbahaya maka, jika kita berlama-lama dengan radiasi maka kita
juga berlama-lama dengan bahaya. Oleh karenanya, gunakan waktu seefisien
mungkin ketika berinteraksi dengan radiasi.
Ketiga konsep proteksi radiasi di atas lalu dikemas menjadi
3 asas yaitu asas justifikasi (manfaat > kerugian), optimisasi (dosis
radiasi serendah mungkin), dan Limitasi (penerapan Nilai Batas Dosis =NBD, oh
ya kalian akan mengenal NBD dan juga Pembatas Dosis, apa itu? Cari sendiri
hihi)
Kesemuanya kemudian dirangkum dengan satu akronim ALARA (As
Low As Reasonably Achievable).
Dalam materi proteksi radiasi seperti yang dijelaskan dalam
paragraph sebelum ini, materinya mencakup desain ruangan masing-masing
intalasi, Radiodiagnostik, Radioterapi, dan Kedokteran Nuklir.
Dalam modul dua juga dipelajari bagaimana penanganan limbah
radioaktif dan juga dekontaminasi (apa ini, silahkan cek google J )
3. Modul 3 ; Tes Keberterimaan (Acceptance Test)
Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir
Nomor 3 Tahun 2013 tentang keselamatan Radiasi
dalam Penggunaan Radioterapi pasal 1
menjelaskan bahwa,
Uji
Keberterimaan (Acceptance
Test) adalah uji
pada suatu sistem atau fungsi peralatan Radioterapi untuk
menjamin bahwa spesifikasi alat dalam
kontrak telah
sesuai, yang dilaksanakan oleh pemasok bersama pihak pengguna
dengan metode uji yang telah disetujui bersama dalam kontrak.
Uji
keberterimaan ini dilakukan tidak hanya pada instalasi Radioterapi saja. Namun,
dilakukan setiap ada pembelian alat-alat kesehatan di bawah tanggung jawab
Fisikawan Medis.
Untuk
instalasi Radioterapi ada satu tahapan lagi yaitu komisioning.
Uji Komisioning (Commissioning Test)
adalah pengujian untuk memastikan bahwa semua parameter yang diperlukan dalam penggunaan aplikasi
klinis
sesuai dengan sasaran pengobatan Radioterapi dengan menggunakan
alat ukur
yang terkalibrasi dan dilakukan oleh Fisikawan Medis atau Tenaga Ahli
setelah Uji Keberterimaan (Acceptance Test).
- Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir
Nomor 3 Tahun 2013 tentang keselamatan Radiasi
dalam Penggunaan Radioterapi pasal 1.
Penjelasan lebih sederhana dari komisioning adalah pengkalibrasian TPS yang akan digunakan dengan pesawat sinar-x yang digunakan dalam artian TPS ini cocok atau tidak dengan pesawat tersebut jadi untuk 1 TPS bisa digunakan untuk beberapa pesawat.
4. Modul 4 ; Jaminan Kualitas
Jaminan Kualitas atau Penjaminan Mutu adalah salah satu persyaratan izin, merupakan dokumen yang dinamis, sangat terbuka untuk dimutakhirkan secara periodik. Pemutakhiran dilakukan baik atas inisiatif Pemegang Izin sendiri maupun melalui masukan yang disampaikan oleh BAPETEN. – Lampiran III dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 3 Tahun 2013 tentang keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Radioterapi
Dalam program jaminan kualitas kita biasa mengenal kegiatan Quality Control (QC) dan Quality Assurance (QA). Perbedaannya untuk kegiatan QC adalah pengecekan dari komponen alat yang digunakan. Sedangkan untuk QA adalah dokumen dari hasil kegiatan QC.
5. Modul 5 ; Perencanaan Radioterapi (Treatment Planning)
Dalam modul Perencanaan Radioterapi dijelaskan mengenai perencanaan untuk beberapa kasus kanker. Sebelumnya, kita mengetahui bahwa radioterapi adalah pengobatan penyakit kanker menggunakan radiasi pengion.
Terapi akan dilakukan setelah proses perencanaan yang dikerjakan oleh Fisikawan Medis yang telah disetujui oleh Dokter. Oleh karenanya perencanaan (treatment planning) dalam radioterapi memiliki peranan penting dalam hal ini. Karena kita sebagai Fisikawan Medis harus dengan benar menghitung dan merencanakan terapi yang akan diterima oleh pasien.
Kita juga dikenalkan dengan beberapa pesawat yang digunakan pada instalasai Radioterapi, seperti Linear Accelator (LINAC), pesawat teleterapi Cobalt-60, dan brakiterapi.
Dalam perencanaan radioterapi juga dikenalkan perencanaan 2D, dan 3DCRT. Ada juga materi mengenai IMRT Plan dan evaluasinya.
6. Modul 6 ; Audit Dosis Pasien
Tulisan lain ;
- Pengalaman Tes Diklat Profesi Fisikawan Medis Batch IV dan Batch V : https://www.khotimahk87.my.id/2020/01/pengalaman-tes-diklat-profesi-fisikawan.html
- QnA Ujian SIB PPR Medik 2 : https://www.khotimahk87.my.id/2021/06/qna-ujian-sib-surat-izin-bekerja-ppr.html
14 Komentar
Halo ka, saya mau tanya-tanya.. ka waktu seleksi penerimaan diklat, soal-soalnya lebih banyak konsep atau ada hitungan yang rumitnya?
BalasHapusSaya sekedar ingin dapat gambaran saja bagaimana saya mempersiapkannya. Saya ini lulusan S1 Peminatan Fismed UI, rencana mau ambil diklat ini pada pembukaan setelah yang periode Jan-Jul 2021 ini. Bagaimana saran kakak?
Terimakasih
Luthfy D
Halo Zulfi... wah lulusan UI nih, tentunya lebih paham sama macam² soal buatan dosen² fismed UI dong ya ? 😅
Hapuskalau yang di UI - soal² pilgan, ga ada essay. Mulai dari konsep dan hitungan ada semua ko.
Bu, anyway Diklat UI udah ga akan buka lagi nih ya? udah tahu dari pak Supri kan ? atau dari dosen2 pengajar UI?
Sementara ini belum ada pembukaan diklat profesi lagi. Namun katanya akan dibuka pendidikan profesi fismed di UNDIP, jadi keep stay tuned ya.
Hehe ya kak, soal2 fismed aslinya jarang hitungan yg rumit2 sih. Bahkan RT 2 yg diajar pak Supri itu soal2nya bukan hitungan sih. Tapi waktu RT 1 sama Bu Djarwani, hitungan2 PDD dan Dosis Serap. Sedangkan di RDI, Biofis, itu jarang bgt hitungan, tapi KN sempat ada hitungan. Saya penasaran sih soal2 seleksi diklatnya..
HapusIya ka, semua dipindah ke UNDIP, sekarang sudah resmi di situ. Udah berlangsung sih ka yg periorr Jan-Jul 2021, kemarin saya ketinggalan info jadi kelewatan masa pendaftaran. Kata pak Supri, kemungkinan Juli dibuka lagi.
Iya saya paham untuk yang diklat profesi sudah berlangsung. Tapi untuk pendidikan profesi (yang dapat gelar keprofesian yaitu FM) belum dibuka.
HapusNais, semoga tidak ketinggalan berita lagi ya abis ini
oiya beda ya diklat dan pendidikan profesi. Memangnya ada kabar akan dibuka pendidikan profesi ka? bukannya itu harus S2 Fismed?
HapusDiklat Profesi hanya pelatihan saja, abis kamu kuliah ga dapat gelar FM.
HapusPendidikan Profesi ya namanya pendidikan, setelah kamu menempuh sks yang cukup, sidang,kamu berhak dapat gelar keprofesian yaitu FM.
Aku ga paham bagaimana mekanismenya nanti, pak supri juga ga bilang. Ditunggu saja nanti bagaimana
Woke ka, makasih banyak sharingnya. Soalnya saya udah jarang kontek Pak supri lagi haha dulu sih deket banget
HapusMba mau tanya dong, untuk modul diklatnya boleh di share ga? 😁 Trimakasih... Kalau boleh minta ya di email azielnimrod@gmail.com
BalasHapusAtau kalau mba join di grup WA Afismi, bisa kasih tau dong, wa.nya yg mana, biar bisa kontakan hehe
Trimakasih
Untuk modul-modul perkuliahan mohon maaf ya ga aku share, karena dokumen tersebut bukan milik saya pribadi. Saya hanya membagikan file-file hasil pencarian saya sendiri di google, hehe.
HapusGrup join wa Afismi yang mana ya dek?
Saya gabungnya grup AFISMI DPW Jatim sih.
Mbak mau Tanya, kalo lulusan fisika (bukan kbk medik) bisa ikut diklat ga??
BalasHapusMbak mau Tanya, kalo lulusan fisika (bukan kbk medik) bisa ikut diklat ga??
BalasHapusUI sudah tidak membuka diklat profesi lagi. Ke depannya akan diadakan pendidikan profesi fisikawan medik (dapat gelar keprofesian F.Med, kalau diklat ga dapat karena belum jadi prodi) di UNDIP. Nanti mekanisme pendaftarannya dan persyaratannya seperti apa, ditunggu saja ya.
HapusAssalamualaikum kak... aku maba s2 fismed ui kak. Background s1 ku bukan fismed. Saat ini aku sedang mengikuti matrikukasi Kak kalau boleh aku minta saran bagaimna memulai untuk belajar mandiri ya. Banyak yg tidak kupahami dan banyak istilah yg baru kuketahui. Tpi bingung harus mulai belajar darimana dan materi apa. Dan jika kakak berkenan apa boleh aku minta catatan/soal/handbook terkait fismed? Terimakasih sebelumnya kak ��
BalasHapusWa'alaykumusalaam.
HapusSarannya apa ya?.. munhkin banyak diskusi sama temen kamu yang lebih paham secara keilmuan. I mean kelompok belajar mungkin ya?
Kalau terkait modul atau ebook, kiranya bakal dibagikan kok sama panitia atau pihak UI. Ditunggu saja
Posting Komentar